Hubungi Kami | Tentang Kami | Disclaimer

Rabu, 09 Mei 2012

Riau Berpotensi Kembangkan Biogas Pengganti Listrik

Kadisbun Riau H Zulher (kanan)
CEKAU.COM - Potensi kelapa sawit di Riau dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai biogas untuk menutupi kebutuhan listrik. Asumsinya, biogas limbah sawit di daerah ini mampu untuk mengatasi kebutuhan listrik di Indonesia. Provinsi Riau berpotensi kembangkan biogas ini karena didukung luas lahan sawit sebesar 2,2 juta hektar.

Ini ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Riau, Drs H Zulher MS, dalam sajian materinya berjudul 'Potensi Kontribusi PKS dalam Pengadaan Listrik Terbarukan dan Berkelanjutan di Provinsi Riau', pada acara workshop ditaja United States Agency Internasional Development (USAID-Indonesia) di Hotel Labersa, Siakhulu, Kabupaten Kampar pada Selasa (8/5).

"Potensi biogas ini cukup besar. Jika dimanfaatkan secara maksimal, maka memungkinkan untuk ekspor," kata H Zulher.

Hajatan ini atas kerjasama Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pemerintah Provinsi Riau. Sementara ICED sebagai program bantuan teknis USAID-Indonesia, berlangsung sejak Maret tahun lalu dan akan berakhir pada September 2014, dua tahun mendatang.

Beberapa Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Riau, jelas H Zulher, memang sudah ada yang memanfaatkan limbah hasil pengolahan sawit sebagai pembangkit tenaga listrik. Namun, sejauh ini masih sebatas untuk lingkungan sendiri.

"Tentunya perlu untuk lebih dikembangkan. Selain dapat membantu rakyat dalam memenuhi akan listrik, pemanfaatan biogas sebagai sumber energi listrik juga bisa berdampak positif untuk kestabilan harga crude palm oil (CPO) tandan buah segar (TBS) milik petani perkebunan," terangnya.

H Zulher menyebut, pengolahan dan pemanfaatan limbah ini sangat ramah lingkungan. Sistem ini mengurangi emisi gas buang untuk mengurangi dampak efek rumah kaca. “Dunia internasional sangat sensitif terhadap isu-isu lingkungan. Terutama global warming. Jadi pengembangan biogas ini sangat diperlukan," paparnya.

Untuk itu, Mantan Sekda Kampar ini mengusulkan agar diberikannya reward kepada perusahaan berinisiatif mengurangi gas rumah kaca dengan methane chapture. Selain itu, skim pembiayaan yang murah bagi pelaku bisnis yang akan melakukan pembiayaan yang berkaitan dengan pemanfaatan limbah perkebunan.

Sementara Dr Hanny J Berchmans, Manejer Pengembangan Energi Bersih USAID-ICED, dalam workshop tersebut mengatakan kebutuhan terhadap listrik yang tinggi, akan mampu dijawab dengan menggunakan energi biogas.

"Luasnya areal perkebunan kelapa sawit dan potensi limbah yang besar menghasilkan bigas dan biomass. Ini mampu menjawab tingginya kebutuhan masyarakat terhadap listrik,” ungkapnya.

Narasumber lain, Ir Maritje Hutapea, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal (Dirjen) Energi Baru mengungkapkan, bioenergi sebagai sumber energi berbasis sumber daya energi lokal. Potensi di seluruh wilayah Indonesia dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dan non listrik.

“Bioenergi sebagai energi bersih karena dalam proses penyediaan dan pemanfaatannya menghasilkan emisi yang sangat kecil. Bahkan tidak ada emisi,” akunya.

Menurut Maritje Hutapea, pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan khususnya bioenergi, memiliki peluang yang sangat besar. Alasannya, mayoritas pembangkit listrik di Indonesia adalah pembangkit listrik berbasis energi fosil.

Ini juga diamini Bupati Kampar H Jefry Noer, juga sebagai pemateri menganalisis adanya investasi awal sangat tinggi dan harga teknologi relatif mahal. Selain itu, energi listrik masih disubsidi pemerintah dan masih kurang tersedianya insentif dan mekanisme pendanaan berpihak kepada energi terbarukan. Berpotensi kecemburuan sosial warga, jika daya yang dihasilkan tidak bisa memenuhi kebutuhan.*


0 komentar:

Poskan Komentar

Prev Post Next Post Home