Hubungi Kami | Tentang Kami | Disclaimer

Kamis, 10 Mei 2012

Irshad Manji Hebohkan Muslim Indonesia, Ada Apa?

Irshad Manji
CEKAU.COM-Irshad Manji kini hebohkan Indonesia. Siapa Irshad Manji ini? Mengapa tiba-tiba penulis Kanada ini muncul tiba-tiba. Ada ada dibalik aksi Irshad Manji ini? Dikalangan negeri Barat, ia dinilai 'reformis dan progresif' Islam. Ia juga dikenal lesbian dan pendiri sekaligus sebagai presiden proyek Ijtihad, sebuah organisasi amal mempromosikan tradisi berpikir kritis.

Kehadiran Irshad Manji untuk kedua kali ke Jakarta ini, dimulai tahun 2008 dan 2012 ini. Di Jakarta, April 2008 lalu, Irshad mempromosi bukunya, 'The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change' 2003'. Buku disambut dingin kalangan muslim.

Namun, ketika buku terbaru Irshad Manji, 'Allah, Liberty dan Cinta' dirilis pada Juni 2011 di Amerika Serikat (AS) membuat dua laskar muslim terbesar di Indonesia, Anshor - Front Pembela Islam (FPI) ini memicu konflik perang urat syaraf. Ini ditayangkan langsung televisi TVone, Rabu (9/5) petang.

Mengapa kehadiran Irshad begitu dihebohkan? Apakah karena kehadiran sosok wanita yang berasal dari Urganda itu atau pemikiran Irshad, yang bapaknya berasal dari India dan ibu dari Mesir? 

Pada website Manji itu, dijelaskan kehadiran bukunya bahwa Allah, Liberty dan Cinta menunjukkan rekonsiliasi iman dan kebebasan dalam dunia yang bergolak. Ia meyakini keberanian moral, keinginan untuk berbicara ketika orang lain ingin membungkam mulut.

Namun, apakah selamanya keinginan manusia itu bebas? Kata Datuk Dalang, hidup dalam dunia ini memiliki nilai-nilai dan norma-norma (aturan-aturan), baik yang tertulis atau pun tidak tertulis. Dasar inilah yang harus dipegang sebagai ummat manusia yang 'numpang' hidup di bumi ini.

Dalang menjelaskan, bahwa ada beberapa nilai-nilai yang harus diyakini manusia jika bicara terkait kebebasan dalam berpikir dan bertindak (bicara dan bersikap). Pertama, ada kebebasan individu, kedua kebebasan adat atau budaya, ketiga kebebasan wilayah atau negara, dan keempat kebebasan keimanan atau agama.

Jika dalam buku 'Allah, Liberty dan Cinta'yang ditulis Irshad Manji itu bicara untuk hidup dalam konteks diri-sendiri, ini sah-sah saja. Tapi pernyataan tersebut harus berpijak pada nilai-nilai dan norma adat maupun budaya.

"Pernyataan individu ini, misalkan saya ingin mengganti nama anak saya, maka saya ubah akte kelahiran. Atau saya ingin mengganti jenis kelamin saya. Tapi ingat jika saya tinggal di Indonesia, tentunya harus ada izin. Nah ini agak sulit. Tapi bisa saja dilakukan diam-diam," terangnya.

Tapi, apakah kebebasan individu itu bisa diteruskan oleh kelompok adat dan budaya. Nah, tentu ada proses lagi. Sebut saja dihadapi adalah masyarakat dalam lingkup kecil seperti keluarga. Maka kalau pun dapat diteruskan kebebasan tersebut, apakah dapat disetujui oleh sebuah negara. Terakhir, jika kebebasan individu tersebut diterima oleh negara, maka perlu mempertimbangkan dengan akal sehat aakah kebebasan itu dapat ditelusuri melalui nilai-nilai agama? 

"Empat tahap ini harusnya kita pahami bersama. Tidak mudah untuk menyatakan kebebasan individu itu. Banyak bencah dan lecah yang harus dilalui. Sebaliknya, bila kita bersikeras menyatakan kebebasan indiviu dan mengucilkan ketika kebebasan yang lain, maka sama saja mencincang air di dulang, dan terpercik muka sendiri," terang Dalang.

Alasan ini pula Datuk Dalang, mengatakan bahwa pengakuan kebebasan individu, tetap tidak mungkin terjadi. Pasalnya, tidak ada kebebasan mutlak. Yang ada kematian mutlak.

"Keberanian untuk menyatakan diri yang selama ini takut, itu hanya bersifat duniawi. Ini bagus. Namun kebebasan diri bersifat individu tetap memiliki keterikatan dalam sebuah kelompok masyarakat yang didogma sebuah adat dan budaya, begitu juga negara dan agama. Ini ada batas-batasnya," jelas Datuk Dalang.*


0 komentar:

Poskan Komentar

Prev Post Next Post Home