Hubungi Kami | Tentang Kami | Disclaimer

Sabtu, 31 Maret 2012

Rendahnya Prestasi Siswa. Siapa Disalahkan?

CEKAU.COM-Siapa disalahkan, bila prestasi siswa di sekolah rendah bahkan anjlok saban tahun? Guru. Ya, guru selalu dikorbankan bahkan dibilang sebagai 'kambing hitam' terkait gagalnya materi yang disampaikan guru kepada siswa. Nah, sejauh mana hal itu bisa terjadi?

Bila merunut UU pendidikan nasional, bahwa guru tetap bekerja (mengajar) sesuai dengan panduan yang telah dibuat oleh para pengambil kebijakan yang notabene dari Jakarta. Tidak seutuhnya, bila guru selalu menjadi korban atas kegagalan prestasi siswa  di sekolah. Mengapa? Banyak indikator yang membuat prestasi siswa di sekolah menurun, banyak sangat mempengaruhi prestasi pendidikan di suatu daerah, yakni kabupaten/kota bahkan provinsi.

Sebuty saja, ketika melihat rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru sangat mempengaruhi pencapaian prestasi siswa tersebut. Apalagi pencapaian prestasi ilmu pasti, yakni fisika dan matematika. Secara internasional, prestasi siswa Indonesia di dunia sangat rendah.

Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003-2004, siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. "Prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura, wah?". Demikian ketika ditanya kepada sejumlah guru, pada acara Hari PGRI di Provinsi Riau, Rumbai 2009 lalu.

Ini juga diperkuat pada 15 September 2004 lalu, United Nations for Development Programme (UNDP) mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia. Hasil laporannya berjudul Human Development Report 2004, menyebutkan bahwa Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Bila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.

Skala internasional, menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1 (Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Wah, ternyata anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30 persen dari materi bacaan dan sulit menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran dan akal. Ini disebabkan metode pendidikan melalui kurikulum yang diciptakan para pengambil kebijakan dari Jakarta, berarti ada yang salah?

Jangan berkilah, dan berdebat panjang terkait  hal ini. Pasalnya, bila ditanya seluruh siswa dari sekolah dasar hingga tingkat sekolah atas, mereka akan menjawab, terlalu banyak pelajaran menghapal dan sibuk dengan soal multiplechois (soal pilihan ganda). Tanpa mengkaji bahwa ilmu juga membutuhkan nalar dengan akal logika.

Bahkan, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk Matematika.

Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75.

Nah, sekarang, siapa berani mengatakan guru yang salah?


~ 1 komentar ~

  1. Artikel yang bagus dan cukup menarik untuk disimak..

    BalasHapus

Prev Post Next Post Home